Sabtu, 05 November 2016

Tisu, barang yang tidak bisa ditinggalkan

                         I.    Pengertian, Kegunaan, Bahan Dasar

Kertas Tisu atau dalam bahasa Indonesia disebut Selampai adalah sejenis kertas krep ringan yang dapat digunakan untuk berbagai tujuan, seperti kertas tisu higienis, tisu wajah (facial tissue), handuk kertas, kertas pembungkus, dan lainnya. Kertas tisu dapat dibuat dari bubur kertas asli maupun hasil daur ulang. Kertas tisu digunakan untuk membuat berbagai produk yang memiliki sifat dan kebutuhan mutu yang berbeda, yang mencakup kekuatan, daya serap, berat dasar, ketebalan, kecerahan, kiah, rupa, dll.
      Tisu  dihasilkan oleh  kompresi serat yang berasal dari pulp/bubur kertas. Serat yang digunakan biasanya adalah alami, dan mengandung selulosa dan hemiselulosa. Bahan baku pembuatan pulp ini adalah kulit kayu. Proses pembuatan pulp diantaranya dilakukan dengan proses mekanis, kimia, dan semikimia. Prinsip pembuatan pulp secara mekanis yakni dengan pengikisan dengan menggunakan alat seperti gerinda. Proses mekanis yang biasa dikenal diantaranya PGW (Pine Groundwood), SGW (Semi Groundwood). Proses semi kimia merupakan kombinasi antara mekanis dan kimia. Yang termasuk ke dalam proses ini diantaranya CTMP (Chemi Thermo Mechanical Pulping) dengan memanfaatkan suhu untuk mendegradasi lignin sehingga diperoleh pulp yang memiliki rendemen yang lebih rendah dengan kualitas yang lebih baik daripada pulp dengan proses mekanis.

         Proses pembuatan pulp dengan proses kimia dikenal dengan sebutan proses kraft. Disebut kraft karena pulp yang dihasilkan dari proses ini memiliki kekuatan lebih tinggi daripada proses mekanis dan semikimia, akan tetapi rendemen yang dihasilkan lebih kecil diantara keduanya karena komponen yang terdegradasi lebih banyak (lignin, ekstraktif, dan mineral)





                 II.            Sejarah Tisu

Tisu Wajah
Menurut sejarah, tisu pertama kali digunakan di Jepang pada abad ke-17. Orang Jepang biasa menyebutnya ‘washi’. Pada masa itu orang Jepang menggunakan semacam kertas halus untuk menutup dan membersihkan hidungnya saat bersin, kemudian langsung dibuang. Namun kepopularan tisu berkembang pada tahun 1942 di Amerika Serikat. Awalnya tisu ini digunakan untuk perlengkapan tata rias Hollywood. Tisu dipakai sebagai bagian dari alat rias wajah untuk membersihkan wajah dari para pemain teater kala itu. Kemudian, berkembanglah sebutan tisu wajah.
Tisu wajah memiliki bahan yang ringan dan lembut, dengan berat 14 hingga 18 g/m2, dan setiap helainya terdiri dari dua sampai tiga lapisan ringan. Seiring dengan perkembangan zaman, tisu semakin popular karena sifatnya yang praktis, sekali pakai, tak perlu repot mencuci, dan langsung buang.
Tisu Toilet
Ternyata tisu toilet memiliki umur yang lebih tua dari tisu wajah, Sobat Orbit. Kalau tisu toilet berawal di Cina sejak abad ke-14 dengan ukuran 2x3 inci. Sementara di tempat lain, manusia menggunakan apapun yang disediakan oleh alam untuk membantu urusan buang air, seperti daun, kulit kerang, dan kulit jagung. Kemasan tisu toilet dengan bentuknya yang sekarang ini pertama kali muncul pada tahun 1857, dibuat oleh Joseph Gayetty.
Tahun 1879, Scott Paper Company didirikan oleh kakak-beradik Edward dan Clarence Scott yang menjual tisu toile dalam gulungan tanpa perforasi. Sementara pada tahun 1885, gulungan tisu toilet dengan perforasi dijual oleh Albany Perforated Wrapping Paper Company.





                          III.            Bahaya Tisu

Bahaya Global Warming

Bukan khayalan aktivitas di toilet sangat berpengaruh terhadap pemanasan global. Jutaan ton tisu toilet diproduksi dari sebuah lahan hutan tropis yang digantikan kebun kayu akasia dan eucalyptus. Kawasan kehidupan komunitas lokal dan kawasan konservasi pun dirambah. Raksasa industri bubur kertas (pulp) menghabiskan lahan hutan yang menjadi pengolah emisi karbon.
Pemanasan global berawal dari perilaku konsumtif penduduk dunia. Keinginan sebuah kepraktisan melakukan sesuatu, berujung pada sebuah penghilangan sumber kehidupan penduduk dunia masa datang. Pemodal selalu berlomba membangun gunung keping emas. mengabaikan keseimbangan, menyisakan bencana ekologi. Air yang semakin berkurang akibat perilaku buruk industri, hingga penguasaan kawasan sumber air bersih menjadikan tak ada pilihan lagi untuk sekedar membersihkan diri. Sumber-sumber air semakin berkurang akibat ditebangnya kawasan hutan. sungai-sungai dicemari oleh limbah pabrik bubur kertas dan tisu toilet. Tisu toilet, berdampak pada percepatan kematian generasi.

Bahaya Bagi Kesehatan

Ancaman kesehatan yang justru tidak kita sadari berasal dari kertas tisu. Kita kerap menggunakannya untuk mengambil atau membungkus makanan, misalnya gorengan, untuk menghindari tangan kotor atau menyerap minyak yang berlebihan pada makanan tersebut. Padahal, zat kimia yang terkandung dalam kertas tisu, kata Sapto Nugroho Hadi, dari Departemen Biokimia IPB, dapat bermigrasi ke makanan.Zat ini disebut pemutih klor yang memang ditambahkan dalam pembuatan kertas tisu agar terlihat lebih putih dan bersih. Zat ini bersifat karsinogenetik (pemicu kanker). Hal yang sama juga terjadi pada kertas yang lain, entah kertas koran atau majalah, yang sering dipakai untuk membungkus makanan. Kertas-kertas ini mengandung timbal (Pb) yang bisa berpindah kemakanan karena panas makanan. Timbal yang masuk ketubuh akan meracuni tubuh dan menyebabkan beragam gangguan, dari kondisi pucat sampai lumpuh.
Jadi, lebih baik gunakan wadah lain, piring beling atau
plastik yang memang khusus digunakan untuk makanan, bila hendak membungkus atau membawa makanan.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar